Ulang tahun pernikahan

“Minggu depan, ulang tahun pernikahan kami yang ke sepuluh, Len.” Isak tangis Mbak Rani tidak berhenti, sudah dua jam berlalu. Bahkan sekotak tissu sudah hampir habis.

“Dia enggak pernah ngomong apa-apa. Orangnya pendiem.” Aku mengelus punggungnya yang terguncang, matanya sembab, berkali-kali dia usap.

“Aku sekarang harus gimna, Len? Aku udah belajar terima. Tapi aku enggak rela.” Kini justru aku ikutan menangis. Tak kuasa melihatnya yang begitu terpuruk.

**

Mbak Rani tetanggaku, kami sudah seperti sahabat, kakak juga teman. Aku sering sekali curhat mengenai materi di Kampus yang tidak aku mengerti, atau curhat tentang cowok yang sedang aku taksir. Sosoknya memang sangat low profile, enak untuk diajak mengobrol, dan pastinya pandai menyimpan rahasia. Sejauh ini curhatanku belum pernah ada satu pun yang terdengar hingga ke publik.

Selain sosoknya yang sering membuatku merasa nyaman bertukar pikiran dengannya, Mbak Rani juga termasuk orang yang pendiam. Tapi, kalau sudah ngobrol sulit untuk di-stop. Kecuali aku mengeluakan jurus andalanku.

“Mbak Ran, udah tiga jam nih kita ngobrol. Bantuin aku yah.” Kataku sambil menyodorkan buku Matematika. Dalam sekejap tanpa menunggu aba-aba, biasanya Mbak Rani akan bangkit dari tempat duduknya dan berpamita pulang.

Dia memang tidak menyukai mata pelajaran matematika. Itula sebabnya setiap aku mengeluarkan buku Matematikaku dia akan pamit pulang, “Di rumah aku udah suntuk Len ngajarin Raka matematika. Terus kamu ngerjain aku minta diajarin juga?” protesnya suatu saat ketika aku memintanya membantuku mengerjakan pekerjaan rumah.

**

Dan pagi ini baru saja aku pulang ke rumah untuk berganti pakaian. Setelah semalam aku menginap di rumah Mbak Rani. Kalau tidak, dia bahkan tidak mau menginjakkan kakinya di rumahnya sendiri. sementara aku tidak tega dengan Raka, anak Mbak Rani yang berusia tujuh tahun itu.

“Aku enggak bisa melupakannya, Lena. Tolong aku. Aku enggak kuat!” rengekannya justru membuat aku kebingungan. 

Mbak Rani yang biasanya justru menenangkanku. Kini sungguh berbeda.

Aku tidak dapat menyalahkan siapa pun. Karena ini semua memang terjadi tiba-tiba. Bahkan tidak ada pertanda Mas Hilman, suami Mbak Rani, akan pergi. Sudah tiga hari, sementara aku yang sering kerepotan menenangkan Mbak Rani. Raka diasuh sementara oleh ibuku. Kami sekeluarga tidak tega, terlebih Mbak tidak memiliki keluarga di sini. Jadilah kami sebagai tetangga terdekat yang mencoba membantunya.

Yang aku tahu, malam itu ketika kami baru saja selesai makan malam. Suara Ambulance terdengar kencang, kami pikir mobil itu terparkir di depan rumah kami. Bapak yang mengintip dari kaca jendela ruang tamu.

“Berhenti di depan rumah Hilman, Bu.” Kami langsung terlonjak kaget. Aku justru paling cepat menghambur ke luar rumah.

Benar saja, mobil sudah di depan rumah. Kulihat Mbak Rani tengah terkulai lemas, duduk di halaman rumah. Raka disebelahnya mencoba menenangkan ibunya. Aku sendiri tak bisa langsung menghambur masuk ke dalam, karena ramai orang yang berbondong-bondong mengangkat sosok yang tertutup dengan kain putih.

“Mas Hilman!! Jangan pergi, Mas!!” teriakan yang bercampur dengan isak tangis membuat dadaku seperti menghimpit. 

Aku memeluk Mbak Rani yang terus saja berteriak histeris. Sementara Bapak langsung membantu petugas medis dari rumah sakit.

Tidak ada penyakit atau apa pun. Teman kerjanya menemukan Mas Hilman tengah pingsan di ruangannya. Bahkan mereka tidak tahu karena lima menit sebelumnya, sekretaris kantor baru saja meminta tanda tangannya. Dan ketika temannya hendak mengajak untuk keluar makan siang, mereka menemukan Mas Hilman sudah pingsan.

“Kami tidak tahu, Bu. Tapi kata petugas medis yang berada di mobil, Pak Hilman sudah tidak ada.” cerita rekan kerja Mas Hilman pada ibu, aku mengupingnya ketika hendak mengambil air putih untuk Mbak Rani yang kini sudah ada di dalam kamar.

Kepergian Mas Hilman yang terlalu cepat, bukan saja mengguncang Mbak Rani, tapi juga Raka. Setelah jenazah ayahnya itu dikubur, Raka bahkan enggan untuk meninggalkan makam. Air matanya tidak berhenti mengalir, tubuhnya naik turun menahan tangis. Akhirnya Bapak dan Ibu yang memutuskan untuk menemani Raka, sementara aku ikut Mbak Rani.

**

Ulang tahun pernikahan Mbak Rani dan Mas Hilman diisi dengan pengajian di rumah Mbak Rani. Meski tampaknya Mbak masih tidak menerima dengan keadaan. Tapi seiring berjalannya hari yang terus menerus memaparkan kenyataan kalau suaminya sudah tiada, tidak ada pilihan lain selain menerima dan mengikhlaskannya.

Aku bahkan harus rela menemani Mbak Rani tidur, dimana setiap malam justru dia selalu terbangun sambil menangis. Sering aku juga ikut menangis karena tidak tahan dengan kepedihan yang dia tanggung. Di tinggal pergi oleh seseorang yang sudah menjadi bagian dalam kehidupan memang tidak mudah. Sudah terbiasa bernafas udara yang sama, berbagi tempat tidur, berbincang, bahkan melakukan banyak hal bersama. Dan selama hampir sepuluh tahun mereka bersama.

Tidak ada riwayat penyakit, bahkan dokter juga tidak mengerti penyebab Mas Hilman pingsan mendadak. Setelah di Visum, hasilnya tidak ada tanda-tanda penyakit atau kekerasan.

”Hilman itu kan orangnya baik. Rajin ke Mesjid, belum lagi kalau habis solat Subuh dan Isya dia menyempatkan untuk tadarus sebentar. Wajar saja kalau dia pergi tanpa di beri rasa sakit.” Aku setuju, Mas Hilman memang sosok laki-laki yang bertanggung jawab dan sangat menyayangi keluarganya.

Mbak Rani sering bercerita kalau suaminya itu tidak pernah memarahinya, kecuali jika memang salah. Bahkan kalau pun marah, tidak pernah dengan nada dan ucapan yang kasar. 

“Dia itu laki-laki lembut yang pernah Mbak temui, Len.” Kenangnya sambil mendekap foto pernikahan mereka.

Sebulan sudah duka menyelimuti keluarga kecil Mbak Rani. Siang itu, saat aku tengah libur kuliah. Mbak Rani kembali menangis, sesegukan. Aku tidak terkejut, karena biasanya dia pasti kembali mengenang sosok suaminya itu.

“Aku bodoh ya, Len. Sungguh bodoh.” Aku terkejut mendengarnya, kemudian menghampirinya yang duduk di sofa ruang keluarga.

“Enggak Mbak, enggak ada yang bodoh.” Air mata terus berurai turun membasahi pipinya. Sudah sebulan ini pun aku tidak melihatnya tersenyum.

“Aku bodoh, Len. Allah sudah kasih aku anugrah yang terindah, tapi aku lupain. Cuma karena aku egois.” Isaknya bertambah kencang. Aku mengelus punggungnya mencoba menenangkan dirinya.

“Lihat, sudah berapa lama aku justru menangis hanya karena tidak menerima. Sementara, Raka justru tidak aku perhatikan. Aku bodoh!” umpatannya membuatku murung sesaat. 

Memang benar, semenjak kepergian Mas Hilman, bahkan Mbak Rani tidak pernah menyapa atau memeluk Raka.

“Sekarang, aku menyesal Len. Aku tidak pandai bersyukur. Bodohnya aku.” Siang itu kami menghabiskan waktu berdua, Mbak Rani mulai belajar untuk menenangkan dirinya setiap kali curhat padaku. Sementara aku berdoa terus dalam hati agar Mbak Rani bisa mengikhlaskan kepergian Mas Hilman.

**

~~~~ Selesai~~~~~

Credit by Duniakasara
Ipeh Alena
Ipeh Alena Blogger

Post a Comment

advertise
advertise
advertise
advertise