Tahun baru akhir 2014
“Nduk, jangan lupa kamu jaga sawah. Kasihan
Bapak, sudah kecapekan dari siang tadi.” Ibu menyerahkan senter kecil, tas
berisi makanan serta jaket tebal yang masih layak untuk aku kenakan.
Bapak seorang petani yang pekerja keras, tidak
pernah mengeluh sekalipun. Meski tempat kami di Kampung Setu, Bekasi ini banyak
di bangun perumahan yang mungkin akan menggusur sawah milik Pak Haji Naiman,
tapi Bapak tidak pernah bermalas-malasan. Tidak seperti tetanggaku, mereka
bahkan ketika mendengar gosip tentang itu lantas enggan untuk datang kembali ke
sawah.
“Bu, Dita berangkat ya.” Aku mencium tangan
Ibuku yang sudah mengeriput. Senyuman tidak pernah luntur dari wajahnya,
mungkin itu yang membuat Bapak jatuh cinta pada Ibu.
Langkahku kecil, ditemani suara jangkrik yang
menyanyi. Tadi sore, Mirna dan teman-temanku mengajak untuk menikmati perayaan
tahun baru di perumahan elit Grand Wisata. Tapi aku menolak dan memilih
menikmati malam seperti sebelumnya, dengan keheningan dan orkestra alam yang
begitu menenangkan.
Beberapa kali aku berpapasan dengan pasangan
muda dan mudi yang berboncengan motor, mereka pasti ingin menghabiskan malam
bersama dan berkumpul dengan teman yang lain. Entah kenapa setiap malam tahun
baru aku lebih memilih untuk menikmati dari jauh. Menjadi penonton sambil
merenungi apa yang akan kulakukan setelahnya. Lagipula aku memang mencintai
sepi dan sunyi, jadi tidak ada perbedaan bagiku.
“Dit, mau ikut nggak? Di sana rame ada pasar
malam sama kembang api!” suara Risa samar terdengar tertutup deru motornya.
“Nggak, Ris.” Aku berusaha berteriak menyaingi
suara knalpot motor yang diubah menjadi sangat nyaring dan cempreng.
Memang sangat heran kenapa justru mereka
merusak sepi kala malam menyapa dengan hingar bingar knalpot yang tidak ada
merdunya itu. bahkan aku sering terganggu dengan suara itu yang sering
membangunkanku setiap malam ketika aku menjelang pulas tertidur. Aku memang
makhluk malam, yang sangat mencintai ketika malam menyapa meski udara dingin
atau hujan turun. Tidak membuatku berhenti untuk mencintai kelamnya sang malam.
Begitu misterius, namun setia.
Desa Setu, terletak di pinggiran kota Bekasi.
Masih banyak sawah yang menguning atau menghijau, meski beberapa kali kerap
diterpa banjir kala hujan deras menyapa. Kalau sudah begini, kasihan Bapak yang
hanya bisa duduk lemas karena gagal panen. Namun, hujan bulan ini tampaknya
masih terbilang ramah, karena tidak banjir. Mungkin juga karena pembangunan
aliran air yang sudah diperbaiki oleh seorang mahasiswa yang kemarin sempat
digembar-gemborkan.
Aku memang tidak begitu tertarik, bagiku
mencintai malam mengajariku untuk setia. Meski banyak yang mencemooh aku
terlalu berharap pada hal yang semu, berharap pada ketidakpastian. Sayang
sekali, sementara Malam adalah sesuatu yang pasti akan dirasakan sesuai
urutannya. Pagi, Siang, Sore dan Malam datang. Hanya jika jiwa kita masih
diperkenankan untuk hidup. Tapi selebihnya Malam tidak pernah ingkar janji atau
bahkan terlambat. Hanya terkadang isu tentang adanya global warming – lah yang
membuat Malam datang tak tepat waktu.
Aku menendang kerikil pelan, jalan kecil
menuju sawah memang sedikit berbatu. Belum lagi minim pencahayaan, karena masih
dihiasi pohon nangka, pohon mangga dan pepohonan lain yang ketika malam hanya
menampakkan siluet. Seperti malam, pekatnya sering menjadikan benda-benda lain
yang mengisi keriuhan alam ini menjadi misterius juga. Seperti dahan pohon
singkong yang melambai bak tangan manusia.
Dari jauh terdengar suara dentuman pesta
kembang api akan dimulai, entah berapa jam atau menit lagi. Seingatku aku
melangkah keluar pukul sembilan malam. Menggantikan Pak’de Kono untuk menunggu
sawah dari hewan-hewan liar yang akan membuat padi gagal panen. Belum lagi
tikus-tikus sawah yang sering nakal, kalau siang burung-burung yang kelaparan juga
menjadi bencana. Belum lagi hama wereng atau belalang pernah juga mewabah.
Semenjak Bapak memutuskan untuk pindah ke
Setu, Bekasi tahun 1999, saat dimana paceklik melanda dari beragam bidang.
Hingga Bapak memutuskan untuk pindah karena tawaran dari Pak Sumono tetangga
kami di kampung. Pertama kali aku menginjakkan kaki di Setu, aku merasa tidak
berbeda dengan kampung kami di Batang, Jawa Tengah. Orang-orang yang beragam,
juga masih banyak yang bekerja sebagai petani meski beberapa kali sempat ada
yang mengatakan kalau tanah milik Haji Naiman ini akan di jual. Tapi dulu
berita itu hanya seperti kabar burung. karena hingga kini Haji Naiman belum
kunjung menjual sawahnya. Tapi berita beberapa hari lalu, tampaknya memang
benar.
Gubuk yang sering dijadikan tempat istirahat
para pekerja berdiri kokoh, atapnya yang terbuat dari jerami menjuntai bak
hiasan mahal. Aku duduk sambil merapikan perlengkapan bawaanku. Dari tengah
pematangan sawah, kilauan motor yang melewati jalan setapak tadi yang aku
lewati terlihat seperti lampu dari cahaya lilin. Gerimis rintik-rintik
mengiringi akhir hari di tahun 2014.
“Kamu memang ndak ada niatan untuk melanjutkan
kuliah?” siang tadi Ibu sambil menjahit sprei yang bolong bertanya padaku.
Sebenarnya aku sudah sangat bersyukur bisa
mengenyam pendidikan hingga Diploma, namun memang pertanyaan ibu itu membuatku
mengingat kembali impianku. Tapi apa daya, aku saja belum mendapat pekerjaan
setelah dua bulan menganggur di rumah. Tidak tega rasanya membebani Bapak dan
Ibu. Belum lagi, pekerjaan Ibu yang hanya seorang tukang jahit, terkadang
berdagang gorengan bakwan keliling. Aku menepis bayangan tentang impianku, mungkin belum saatnya.
Dari jauh gemuruh ledakan kembang api
terdengar menggema, senyumku menghiasi wajah. Ada getaran yang begitu
menghentak meneriaki relung kalbuku, biarkan
aku menikmati sepi. Meski sebenarnya aku bukan seorang yang mellow atau
juga mendramatisir keadaan.
Tapi bagiku ditengah kesendirian ini, aku bisa
merangkai mimpi dan impianku sepuasnya.
Gemerisik semak mengejutkanku, aku
menggoyangkan tali yang sudah dipasang untuk mengejutkan binatang yang
mengganggu.
Brak. Aku lebih terkejut
saat mendengar suara keras seperti benda terjatuh di sebrang sawah.
Ada sekilas
bayang hitam bergerak perlahan. Aku tidak tahu binatang apa yang gerak-geriknya
mencurigakan itu. aku menyorotkan senterku kearah bayangan hitam itu.
“Astaga!” aku terpekik, ketika mengetahui ada
seseorang yang terjatuh di sana. Pikiranku meracau dalam perjalanan untuk
menolong orang yang jatuh tadi. Meski hatiku ragu karena takut dia adalah orang
jahat.
“Pak, nggak apa-apa?” aku mendekat dengan
perlahan, senterku aku jepit diantara leher dan bahuku. Membantu orang tadi.
“Nggak apa-apa. Saya tadi kaget denger lonceng
tadi.” Aku tertawa pelan, bersyukur malam tidak menampakkan tawaku yang
menyeringai.
“Bapak mau kemana?”
“Nggak kemana-mana, saya Cuma mau duduk di
sana.” Orang itu menunjuk gubuk tempatku tadi.
“Ada apa Bapak mau kesana?” aku mendahuluinya,
melangkah lebar-lebar sambil mempersiapkan jika ada sesuatu yang mengancam.
“Saya Cuma mau menikmati malam pergantian
tahun saja.” Katanya tenang.
Aku tidak tahu kenapa, jantungku berdebar
kencang. Entah mungkin karena aku takut ada orang asing yang kini duduk dalam
kesunyian malam namun samar terdengar hingar bingar pesta fora pergantian
tahun. Kami berbagi sunyi dan sepi, tidak ada kata-kata yang dapat mengganti
senyap. Tapi aku menikmatinya saja, karena tidak mengganggu perenunganku.
Namun, kepalaku meracau kesegala arah. Merasa kehilangan fokus aku mendesah
berkali-kali, berat dan panjang.
“Lagi galau ya?” aku menoleh cepat, meski
hanya secarik siluet yang nampak dari penggambaran wajahnya. Tapi aku tahu,
tampaknya dia orang baik.
“Nggak, galau kenapa?” jawabku singkat.
“Anak zaman sekarangkan hobinya galau. Gak
bisa jalan-jalan galau, gak bisa beli baju galau, gak bisa mejeng galau. Semua
dikaitkan dengan kegalauan.”
“Beruntung saya nggak tertarik dengan galau,
Pak.”
Dia tertawa kecil, “Panggil saja, Andra. Saya
belum Bapak-Bapak. Masih kuliah sedang ambil studi S2.” Jantungku seketika
berdegup, berarti ini mahasiswa yang
kemarin menjadi perbincangan itu.
“Oh, maaf.”
Kemudian kembali hening, aku menikmati paduan
suara antara kodok dengan jangkrik, entah kenapa mereka bisa kompak dalam
mendendangkan harmoni malam yang senada. Seperti tengah dipadu oleh seorang
musisi papan atas seperti Purwacharaka. Tapi ini adalah keindahan yang tidak
akan pernah bisa dibandingkan dengan pesta yang hingar bingar.
Bayangkan saja, ledakan kembang api sudah
bersahut-sahutan. Seakan tidak mau kalah, setiap penjuru arah mata angin
ledakan itu bersahut-sahutan. Entah berapa banyak uang yang dikeluarkan
sia-sia. Desas-desus yang pernah aku dengar, katanya mereka menyiapkan dana
hingga puluhan juta untuk mempersiapkan pesta yang hanya akan dinikmati semalam
saja.
“Ngabis-ngabisin uang saja.” Suara Andra
terdengar berbisik.
Aku tertawa sekilas, menertawakan ternyata isi
kepala kami hampir sama. Mengomentari setiap warna-warni yang memang terlihat sangat
indah di langit. Berpikir tentang banyaknya jutaan rupiah yang terbuang dengan
percuma. Mending buat aku kuliah daripada
untuk kembang api, batinku.
“Serius, saya sedang tidak bercanda. Tapi
memang untuk apa mereka menyiapkan pesta yang seharusnya bisa digunakan untuk
kesuksesan atau pengembangan usaha menengah kebawah?” aku terdiam, segera
tersadar, mungkin tawa kecilku yang tadi terdengar olehnya membuatnya
tersinggung.
“Maaf, tapi saya nggak menertawakan Mas Andra,
saya lagi menertawakan diri saya dan juga isi kepala kita yang ternyata sama.
Mengomentari pesta pora pergantian tahun.”
“Ah, iya. Saya pikir kamu tengah berpikir saya
terlalu serius berpikir.”
Kami tertawa bersama, membiarkan hingar bingar
menjadi instrumen yang membawa kami pada malam yang semakin larut. Mungkin
pergantian tahun segera datang, tapi aku tidak begitu memikirkannya. Sama
seperti niatku dari awal, hanya saja, kilatan cahaya kembang api membuatku bisa
melihat wajah Mas Andra. Senyum mengukir wajahnya setiap kami berbincang santai,
hidungnya mancung dan wajahnya sangat manis.
“Kamu tahu, berapa banyak polusi dari ledakan
kembang api ini. Tidak terbayang mengapa mereka masih melakukan pesta yang sama
setiap tahunnya.”
Aku suka caranya berpendapat, tidak menghakimi
hanya merenungi sesuatu jika dihabiskan dengan jalan yang baik. Bukankah
terlihat sangat berbeda dengan cowok-cowok temanku yang hanya berpikir tentang
motor, mall atau hal-hal yang menghabiskan uang tanpa berpikir bagaimana
mendapatkannya.
“Saya bahkan harus banting tulang demi
membiayai kuliah saya. Sementara banyak sekali di sana mahasiswa dan mahasiswi
yang seharusnya menghadapi UAS tapi mereka memilih untuk berpesta semalam.
Tidak berpikir tentang pendidikan mereka.”
Aku teringat dengan Resa yang sore tadi
mengatakan bahwa dia tidak memikirkan UAS untuk malam ini. karena dia ingin
menghabiskan pesta pergantian tahun bersama kekasihnya. Entahlah mereka pergi
kemana, aku sendiri tidak ingin ikut campur. Terkadang aku merasa sedih
mendengar teman-temanku yang beruntung bisa kuliah namun tidak memanfaatkan
dengan baik.
“Saya saja masih bermimpi untuk bisa lanjut
kuliah.” Bisikku pelan, sebenarnya itu hanya impian yang ingin aku gantungkan
bersama bintang-bintang di langit. Tapi ternyata, Mas Andra mendengarnya.
“Bagus, capailah impian itu, ingat harapan
harus sejalan dengan kerja keras. Karena impian itu bagaikan bara api yang akan
membuat kita bersemangat untuk meraihnya.” Tubuhku seketika merasa hangat,
bukan karena jaket tebal yang aku kenakan, tapi karena semangat yang baru saja
membuatku merasa tidak perlu takut lagi untuk bermimpi.
“Jangan pernah takut bermimpi, saya suka
dengan kalimat salah seorang dosen saya sewaktu kuliah Diploma dulu.”
Bayanganku pada sosok Pak Dura kembali berkelebat. Sosok yang membuatku bersemangat
sehingga nilaiku tidak pernah ada yang jelek. Minimal A atau A plus pasti aku
dapat.
“Impian itu milik semua orang, jangan pernah
takut. Asal berlarilah untuk menjadikannya kenyataan.” Aku bisa merasakan Mas
Andra tersenyum padaku, melalui siluet bayang yang terlihat dari balik sinar
gemerlap langit yang ramai.
Aku tidak pernah mengerti apa itu cinta atau
idola. Bagiku hidup ini sudah begitu banyak porsi hidupku untuk mencapai
impian. Tapi malam ini, ada sesuatu yang baru, mungkin semangat serta debaran
yang lembut dan menenangkan ini salah satunya. Mungkin jika bintang-bintang itu
bisa melihat, di gubuk pematangan sawah, ada dua orang insan yang tengah
merajut mimpi dalam diam.
“Kok saya merasa nyaman ya di sini. Setiap
malam saya ke sini nggak pernah merasa seperti ini.” aku merasa pipiku
menghangat, beruntung rona merah tidak tampak langsung. Sehingga masih bisa
kusembunyikan.
“Dita, besok pagi mau nggak sepeda bareng
saya? Kita ke Danau buatan di belakang perumahan Grand Wisata.” Bolehkah aku
berteriak malam ini? karena sungguh aku bahkan tidak tahu ingin berkata apa
lagi. Bahkan untuk mengangguk saja tampaknya tidak cukup.
“Hmm.. I.Iya.. Mas.” Susah payah aku
menjawabnya. Mas Andra tertawa kembali sambil mengusap kepalaku dengan lembut.
Desir darahku mengalir lembut. Jantungku tengah ikut berpesta.
Dentuman semakin keras dari berbagai sisi,
warna-warni yang terpantul dari bias kilatan kembang api, terdengar riuh suara
terompet menyambut sesuatu. Mungkin sudah tepat jam dua belas malam, tepat
pergantian hari dan pergantian tahun yang baru. Aku tersenyum menikmati
indahnya langit, meski aku juga ikut berpikir apa yang terjadi dengan alam yang
tengah dicemari dengan polusi ini.
“Dita, selamat tahun baru.” Bisik Mas Andra
sambil menggenggam tanganku hangat.
Bolehkah aku berteriak sekarang? Sungguh aku
ingin sekali berteriak bergembira agar tersamar oleh suara hingar bingar.
“Selamat tahun baru, Dita!” aku tersentak
kaget karena Mas Andra berteriak dengan semangat, seakan menyeru pada langit
malam yang ceria.
“Selamat tahun baru, Mas Andra.” Tidak mau
kalah, akhirnya keinginanku bisa terwakili.
Degup jantungku berirama, aku
merasa berbeda dan tak lagi perlu khawatir dengan malam yang pasti akan datang
lagi esok hari. Tapi pasti ada sesuatu yang berbeda di sana. Ada Mas Andra yang
mungkin akan menemaniku.
Sambil berbagi makanan bekal dari Ibu, kami
menikmati sisa malam pergantian tahun dengan mendengarkannya bercerita tentang
perjuangannya, tentang dia dan mimpinya juga tentang aku serta mimpiku dan
tentang kami. Sekotak singkong rebus yang sudah mulai dingin, ubi rebus tidak
membuat kami merasa bosan. Mungkin fajar sudah akan tiba dan tak sabar ingin
menyapa bumi pada hari yang baru.
Created by duniakasara

Post a Comment
Silahkan berkomentar dengan bahasa yang baik, sertakan juga nama dan link bagi pengguna platform lain. Terima kasih untuk waktunya telah singgah di sini.